Logo UPN Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Yogyakarta
Logo UPN UPNVY

Ingin Jadi Aktivis Kampus? Simak Dulu Aturan Mainnya

Posted at 16 October 2017 on SEPUTAR KAMPUS by Redaksi
Foto AFP Photo-Juni Kriswanto

Katakanlah kalian ingin memulai sebuah demonstrasi untuk mendukung atau menentang suatu hal di kampus. Bagaimana seharusnya kalian memulai? Apa yang bisa kalian lakukan untuk memastikan demonstrasi nggak cuma membuat kacau, atau sebaliknya, garing dan nggak ada yang memperhatikan? Berikut beberapa tips yang mungkin bisa kalian terapkan.

Seni protes di kampus bukanlah sesuatu baru, tapi ada perkembangan pengorganisasian dalam beberapa tahun terakhir.

Inilah beberapa taktik aktivis kampus yang telah terbiasa membangun demonstrasi dan gerakan yang berhasil.

 

Gunakan struktur kepemimpinan yang mendukung kebutuhan kalian

Tidak semua gerakan bisa berhasil dengan mengikuti model kepemimpinan yang sama. Apakah kelompok kalian telah menunjuk pemimpin dengan tanggung jawab khusus? Atau apakah kalian beroperasi dalam struktur non-hirarkis, seperti berbagi pekerjaan misalnya?

Bagi mahasiswa, pengorganisasian dilengkapi dengan pekerjaan rumah dan ujian, jadi struktur terbuka—yang secara integral melibatkan para mahasiswa baru—bisa memungkinkan lebih banyak orang untuk berkontribusi saat mereka mau atau punya waktu.

Salah satu contoh: sebagai co-president Carolina Hispanic Association (CHispA) di Universitas North Carolina-Chapel Hill, Raymundo Garcia membantu mengadakan demonstrasi di Chapel Hill dengan harapan dapat meyakinkan pemerintah untuk menciptakan ruang yang telah ditentukan bagi mahasiswa Latinx. Dia merekomendasikan agar gerakan kampus berinvestasi pada anggota kelompok yang lebih muda sebagai pemimpin dan menghindari mengandalkan satu pemimpin kuat.

“Orang-orang seringkali menjadi sangat terpaku pada pemimpin yang bisa mengumpulkan semua orang, tapi ketika pemimpin itu pergi, atau ketika pemimpin itu lulus, gerakan pun terhenti,” kata Garcia.

Kalau ingin sebuah gerakan sukses, gerakan itu harus berkelanjutan, kata Garcia. Estamos Aqui UNC, nama gerakan tersebut, menghasilkan sebuah komite universitas untuk bekerja dengan siswa Latinx. Sementara kemajuan kecil yang nyata telah berhasil diwujudkan, gerakan tersebut berhasil mencapai tujuan, bahkan mengumpulkan dukungan dari senat mahasiswa UNC.

Dan fakta bahwa hasil yang diperoleh membutuhkan waktu semakin menegaskan kebutuhan untuk menciptakan struktur kepemimpinan yang langgeng, kata Garcia. “Sebuah gerakan yang begitu besar seperti mencoba membuat sebuah student center di kampus UNC untuk siswa Latinx tidak akan terjadi dalam waktu satu tahun,” katanya. “Kampanye itu akan memakan banyak waktu, dan itu adalah sesuatu yang sedang berlangsung.”

Menurut dia, jika ada hambatan yang bisa membuatnya gagal, seringkali disebabkan karena tak ada estafet kemepimpinan.

 

Saling mendukung

Clara Mejía Orta, lulusan Universitas Georgetown (GU) di 2017, adalah salah satu penyelenggara inti GU Sanctuary Movement, yang mendapat dukungan dari sejumlah besar siswa dan fakultas dalam menciptakan kampus yang lebih inklusif dan aman bagi untuk siswa yang tidak berdokumen maupun kelompok terpinggirkan lainnya.

Dia mengatakan bahwa anggota yang menunjukkan dukungan satu sama lain membantu membentuk kelompok yang lebih kohesif.

Anggota GU Sanctuary sering saling menulis surat untuk menyemangati, dan mengucapkan semoga berhasil dalam ujian.

“Itu hanya sejumlah kebaikan yang kami bagi yang membuat kami saling peduli satu sama lain,” kata Mejía Orta. “Menciptakan rasa keterhubungan dan persatuan itu sangat penting, dan jelas kita saling mengerti karena kita mengerti bahwa perjuangan kita terikat oleh persahabatan.”

Mejía Orta mengatakan bahwa mengenal mahasiswa lainnya dalam kelompok aktivis membantu gerakan tersebut menjadi lebih inklusif. Hubungan pribadi memungkinkan GU Sanctuary untuk menghormati titik temu, menurut Mejía Orta, dalam bentuk inisiatif seperti merancang surat-surat pribadi untuk orang tua lulusan yang tidak berdokumen untuk menceritakan kisah mereka, dan mewujudan kamar mandi umum dengan gender netral.

“Sebagai sebuah kelompok, kami dapat menjembatani semua jaringan yang secara kolektif kami bawa sebagai individu, dan kami dapat menggerakkan banyak orang,” kata Mejía Orta.

 

Gunakan kisah pribadi untuk menyampaikan pesan

Pada saat pengorganisasian progresif dapat terlihat dan menjadi agresif, co-founder Resistance School Yasmin Radjy mengatakan bahwa berbagi cerita pribadi untuk menarik emosi dari pendengar adalah cara yang baik untuk menyampaikan pesan yang mudah dipahami.

The Resistance School adalah sebuah inisiatif yang dimulai oleh mahasiswa Sekolah Tinggi Pemerintahan Kennedy Universitas Harvard yang mengajarkan orang bagaimana mengatur sebuah gerakan.

“Idenya tak hanya sebatas memenangkan pemilihan dan memenangkan perdebatan kebijakan begitu seseorang terpilih—ini adalah tentang kemampuan untuk mengatur dan memobilisasi diri kita untuk membangun kekuatan nyata,” kata Radjy. “Dan itu juga termasuk kemampuan untuk berkomunikasi, tidak hanya melalui kebijakan dan statistik, tapi juga melalui nilai-nilai (pribadi) kita.”

 

Minta dukungan dari kelompok kampus lainnya

Ada kekuatan dalam jumlah. Mengajak sebanyak mungkin pihak untuk terlibat dan menjadi pendukung membantu memperluas sebuah gerakan dan mewujudkan tujuan bersama.

Di UNC-Chapel Hill, Garcia mengatakan bahwa Estamos Aqui UNC mengumpulkan banyak organisasi untuk memperjuangkan inklusi Latinx yang lebih baik. CHispA berkolaborasi dengan organisasi Yunani berbasis Latin dan kelompok afinitas lainnya, dan mereka membentuk sebuah "dewan" pemimpin mahasiswa Latinx untuk menyusun strategi demonstrasi. Ini berhasil, karena mereka memiliki kesamaan.

“Kohesi utama yang menahan kami adalah, bagaimana kita menghadapi universitas dan berjuang untuk mewujudkan apa yang kita butuhkan sebagai organisasi mahasiswa,” kata Garcia. “Kami percaya bahwa sebagai pemimpin kita tidak seharusnya membuat segala sesuatunya tentang diri kita sendiri, tapi lebih banyak tentang orang-orang yang kita layani.”

Bagaimana guys, sudah siap jadi aktivis mahasiswa?


Sumber : USA Today

KOMENTAR
Log In untuk menambahkan komentar
Belum ada komentar
Baca Lainnya