Logo UPN Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Yogyakarta
Logo UPN UPNVY

Pelajaran Hidup dan Kepemimpinan dari Daenerys Tagaryen

Posted at 28 July 2017 on ARTIKEL by Redaksi
Photo credit HBO

Season baru Game of Thrones sudah mulai tayang! Nggak heran kalo teman-teman kalian di kampus mulai seru ngomongin Jon Snow yang sempat meninggal tapi bangkit lagi buat balas dendam, Bran Stark yang suka bikin onar, dan nggak ketinggalan Daenerys Targaryen, salah satu karakter paling dicintai dalam cerita karangan George R.R. Martin itu.

Tapi ngomongin Game of Thrones nggak harus selalu bicara tentang ceritanya lho. Ada banyak pelajaran yang bisa kalian ambil dari masing-masing karakternya. Cerita ini memang punya segudang karakter menarik. Tapi nampaknya nggak ada yang lebih mencuri hari pemirsa selain Daenerys, sang Ibu Naga.

Kenapa?—karena, kisah hidupnya sebagian besar adalah tentang pengembangan diri, mengatasi tantangan, dan membangun tentara pejuang yang bisa membantunya merebut kembali Iron Throne dan memerintah Tujuh Kerajaan Westeros. Daenerys benar-benar membangun kerajaannya dari nol dengan membantu yang tertindas dan lemah. Dia telah tumbuh dari sekedar pion politik menjadi seorang pemimpin sejati.

The Unburnt Queen of the Andals, the Rhoynar, and of the First Men, Queen of Meereen, Khaleesi of the Great Grass Sea, Breaker of Chains, Mother of Dragons – adalah beberapa julukan untuk menggambarkan betapa hebatnya Daenerys.

Kalian pun bisa menerapkan pelajaran dari kisah Daenerys, karena semua orang di dunia adalah pemimpin, setidaknya bagi diri sendiri.

Mengubah keadaan sulit jadi peluang untuk sukses

Kalian yang punya kekuatan mental untuk menghadapi kesulitan pasti bisa mengubahnya jadi peluang untuk sukses. Sama seperti Daenerys, seorang perempuan muda yang awalnya dipaksa menikah dengan panglima peang yang kejam.

Namun kemudian dia menemukan kekuatan untuk mengubah kesulitan jadi peluang. Dia memanfaatkan posisinya sebagau Khaleesi untuk membujuk suaminya mengasihani rakyat dari wilayah yang mereka taklukkan.

Kalian mungkin nggak akan dijual untuk dinikahkan dengan siapapun, tapi kesulitan hidup akan selalu ada. Kerentanan dalam diri kalian akan selalu ada. Tapi ingat, seperti halnya cahaya yang nggak akan ada kalau nggak ada bayangan, kesulitan ada supa kalian bisa merasakan makna sukses.

Kalian selalu bisa mengubah kesulitan menjadi kesuksesan dengan bertahan di dalamnya, sambil melakukan yang terbaik untuk membalikkan keadaan. Di situlah peluang biasanya muncul.

Buat keputusan dan konsisten menjalaninya

Pada akhirnya, kalian harus bertanggung jawab atas keputusan yang kalian buat. Kalo kalian bisa membuat keputusan tersebut dan bertanggung jawab penuh atas konsekuensinya—baik atau buruk—kalian menyuntikkan rasa percaya diri kepada diri sendiri, dan kepada orang-orang di sekitar kalian.

Walaupun kadang Daenerys tidak mendengarkan orang lain, dia juga mengerti bahwa dia bertanggung jawab atas keputusan yang sudah dia buat, dan menjalaninya dengan keyakinan yang tak tergoyahkan.

Penasihatnya menyuruhnya kembali ke rumah untuk menaklukkan Iron Throne, tapi dia mengikuti apa yang dia yakini benar, dan membebaskan budak-budak Slaver's Bay. Walaupun dia mau menerima masukan dalam proses pengambilan keputusan, dia tidak mentolerir sikap ragu-ragu begitu keputusan tersebut dibuat.

Penasehat (dalam hal ini teman-teman dan keluarga kalian) adalah sumber yang bagus untuk memperoleh pandangan-pandangan baru. Tapi pada akhirnya, kalian harus selalu membuat pilihan sendiri.

Jadilah pendengar yang baik

Hampir semua pemimpin hebat punya penasihat yang bisa mereka andalkan, dan mereka juga tahu kapan harus mendengarkan. Memang, kalian perlu merasa percaya diri. Tapi sikap terlalu percaya diri akan menjadi bumerang bagi seorang pemimpin (dan siapapun yang ingin sukses).

Salah satu kemampuan terbaik Daenerys sebagai pemimpin adalah kemampuan untuk mendengarkan. Dia punya banyak teman dan penasihat yang bijaksana, sehingga dia bisa “meminjam” kebijaksanaan mereka. Dia mendengarkan masukan semua orang, dan mengandalkan pengetahuan serta pengalaman mereka.

Salah satu contohnya, ketika dia menghadapi pilihan untuk menaklukkan Slaver's Bay—dan membebaskan ratusan ribu budak—atau kembali ke rumah leluhurnya di Westeros, dia dengan hati-hati mendengarkan saran semua orang.

Kalian bisa memanfaatkan pengetahuan orang tua, kakak, adik, sepupu, teman, guru, dosen, atau siapapun untuk mengatasi permasalahan atau mengambil keputusan. Kalau kalian menghadapi hal-hal spesifik, tanyalah kepada orang yang kira-kira paham dengan hal tersebut. Kalau tidak bisa menemukan penasihat yang tepat, buku dan Google selalu bisa kalian andalkan

Percayalah kepada visi kalian

(Photo credit HBO)_2

Diasingkan ke lautan sempit yang memisahkan Tujuh Kerajaan dari Timur yang ganas, yang dipikirkan oleh putri Targaryen hanya satu: menemukan jalan pulang dan mendapatkan kembali apa yang telah menjadi haknya.

Meskipun Westeros—tanah yang dikuasai ayahnya sebelum Jamie Lannister membunuhnya— tidak pernah benar-benar menjadi rumah baginya, dan dia pun nggak punya kenangan nyata akan tempat itu, Daenerys bisa melihat rencana-rencana masa depannya di tanah tersebut. Dia adalah seorang tidak asing dengan kehilangan dan kesedihan. Sebenarnya, itulah ciri khasnya. Dia jatuh hanya untuk bangkit lagi, dan menjadi lebih kuat dari sebelumnya.

Kalian yang mengikuti Game of Throne pasti tahu, sang putri telah kehilangan ayahnya, lalu rumahnya, kemudian semua kerabat sedarahnya, kemudian kebebasannya, dan akhirnya suami dan anak-anaknya. Namun, dia masih berdiri dengan bangga dan meng-klaim tempatnya di dunia. Dia telah mencapai tujuannya, hanya karena dia percaya pada visinya.


Sumber : progressivewomensleadership.com

KOMENTAR
Log In untuk menambahkan komentar
Belum ada komentar
Baca Lainnya