Logo UPN Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Yogyakarta
Logo UPN UPNVY

Mengintip Perkembangan Proyek MRT, 20 Meter di Bawah Jakarta

Posted at 21 April 2017 on ARTIKEL by Redaksi
Foto : Brilio

Nampaknya mimpi Jakarta untuk segera memiliki moda transportasi mass rapid transit alias MRT seperti di Singapura makin dekat. Pasalnya, proses pengerjaan proyek tersebut sudah mencapai lebih dari lima puluh persen.

Sebagai informasi, PT MRT didirikan pada bulan Juni 2008 untuk membangun proyek MRT, namun pembangunan fisik dimulai lebih dari lima tahun kemudian. Pada bulan Oktober 2013, PT MRT menggali di bawah Sudirman-Thamrin, jalan protokol ibu kota yang menjadi saksi perkembangan transportasi Indonesia, karena jalur MRT berada tepat di bawahnya.

Awal tahun hingga pertengahan 2017 ini, proyek MRT mengalami kemajuan yang menggembirakan. Pembangunan stasiun MRT di CP 106 di sekitar Bundaran HI, Jakarta Pusat, telah mencapai 75 persen. Stasiun MRT di kawasan tersebut, yang berada sekitar 20 meter di bawah tanah, merupakan salah satu stasiun MRT terluas karena merupakan ujung dari Fase 1 proyek MRT.

Pada jalur MRT yang menghubungkan kawasan Lebak Bulus di Jakarta Selatan dan kawasan Bundaran HI tersebut, stasiun MRT terdiri atas dua lantai. Lantai satu, bagian platform, merupakan tempat untuk jalur kereta. Sementara, lantai dua digunakan sebagai pusat bisnis.

Di lantai dua tersebut, nantinya akan dipenuhi oleh toko-toko, cafe, dan restoran begitu MRT beroperasi. Menurut laporan yang dilansir dari Brilio, semua stasiun MRT akan memiliki pusat komersial yang sama, namun karena stasiun MRT di Bundaran HI memiliki platform terpanjang, maka di sana akan menjadi zona komersil terbesar di bawah tanah.

Bagian platform di lantai bawah dirancang seperti yang ada di Singapura. Platform dibuat tertutup dengan partisi dari kaca. Desainnya jauh berbeda dengan stasiun-stasiun KRL di Jakarta, yang dibuat seperti Victorian Tube di Inggris namun tanpa atap.

Di stasiun MRT, tersedia juga lift atau elevator untuk mereka yang enggan naik turun tangga dan eskalator, yang menghubungkan kedua lantai. Saat ini, beberapa halte Transjakarta juga memiliki elevator. Sayangnya, hampir semua elevator Transjakarta sudah tidak berfungsi, tak terawat, dan menjadi sasaran vandalisme. Namun desain platform MRT berbeda. Semuanya dibuat nyaman untuk pengguna.

Menurut Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar, secara keseluruhan, proyek MRT Jakarta yang sudah rampung mencapai 58,26 persen.

“Pekerjaannya dibagi menjadi dua bagian, yakni layang dan bawah tanah. Untuk yang section layang memang lebih lambat dari yang bawah tanah. Karena kalau yang bawah tanah tidak ada masalah dengan pembebasan lahan,” kata William, seperti dilansir dari Republika, Kamis, 20 April 2017.

Stasiun dan keseluruhan proyek konstruksi Fase 1 dijadwalkan akan selesai pada pertengahan 2018. Kemudian, pembangunan jalan kereta api, pemasangan stok kereta api, uji coba dan sertifikasi akan dilakukan sebelum rute tersebut akhirnya dibuka untuk umum pada bulan Maret 2019. Setelah itu, PT MRT akan memulai pengembangan fase kedua, yakni jalur MRT yang menghubungkan kawasan Bundaran HI dengan kawasan Ancol Utara di Jakarta Utara.

 

Sumber lain : Brilio.net


Sumber : Republika.co.id

KOMENTAR
Log In untuk menambahkan komentar
Belum ada komentar
Baca Lainnya