Logo UPN Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Yogyakarta
Logo UPN UPNVY

Kapan Terakhir Nonton Film Indonesia? Yuk, ke Bioskop!

Posted at 04 October 2016 on ARTIKEL by Redaksi

Sudah ketinggalan zaman kalau masih komplain dengan film-film lokal. Saatnya sekarang mendukung film lokal untuk semakin berjaya. Di tahun 80-an, film lokal merajai bioskop di seluruh tanah air. Kejayaan itu harus dikembalikan lagi mulai dari generasi sekarang.

Setelah terpuruk sekian lama, film lokal sebenarnya sudah berusaha bangkit sejak tahun 2000-an dengan film-film bermutu mulai dari “Petualangan Sherina”, “Ada Apa dengan Cinta”, hingga “Laskar Pelangi”. Ketiga film ini contoh yang mencetak box-office dengan mutu yang baik. Belakangan di September 2016, “Warkop DKI Reborn” mencetak rekor fantastis ditonton oleh tiga juta penonton dalam sepekan setelah penayangan.

Sayangnya, kesuksesan “Warkop DKI Reborn” diwarnai ulah nakal seorang penonton yang merekam dan menyebarkannya di media sosial. Rekaman 30 menit itu bahkan diambil saat penayangan perdana. Tak hanya pekerja film, kasus ini membuat kesal masyarakat luas.

Padahal, ketika film lokal mulai bergairah, kita harus mendukungnya dengan menontonnya langsung di bioskop.


Mutu vs Komplain

Film lokal akan menjadi lebih baik karena ada penontonnya. Mutu film akan terus terpicu dari kritik penontonnya. Bagaimana bisa komplain tapi kita tidak menontonnya? Memang tidak harus memaksakan diri menonton semua film lokal. Tetapi jangan juga buru-buru skeptis duluan kalau film lokal itu kebanyakan jelek mutunya.

Industri Kreatif

Industri film adalah industri kreatif. Artinya, sebagian besar pelaku utamanya adalah orang-orang kreatif. Orang macam inilah yang harus ditantang kreativitasnya. Peroleh penonton membuat industri film akan terus berputar yang berarti kreativitas akan terus terpacu. Produser akan terus mendapatkan biaya untuk produksi dari film ke film. Semakin banyak penonton, semakin banyak film yang mampu diproduksi dan semakin banyak pula peluang membuat film yang bermutu sekaligus menghibur. Adil, kan?

Media Budaya

Film adalah salah satu media untuk memperkenalkan dan menjaga budaya bangsa yang komplet. Contohnya, kita bisa kenal lebih dalam dengan budaya ronggeng dalam film “Ronggeng Dukuh Paruk”. Bangsa ini terlalu kaya dengan budaya yang harus dikenal dan dijaga dari generasi ke generasi. Kalau ada yang klaim budaya kita oleh bangsa lain, kita juga yang salah karena tidak kenal dekat dan dijaga.

Berhubungan dengan Industri Lain

Sudah nonton “Laskar Pelangi”, kan? Keterlaluan kalau belum nonton. Gara-gara itu orang berbondong-bondong ke Pulau Belitung. Film ini membuat kita tahu keindahan pantai Pulau Belitung dari sekadar pulau penghasil timah. Industri film sangat berhubungan dengan industri yang lain. Dalam kasus “Laskar Pelangi”, industri pariwisata menjadi sangat terbantu. Belum lagi kaitannya dengan industri kerajinan tangan dan lainnya.

Rezeki Buat Bangsa Sendiri

Dalam hubungannya dengan poin nomor 4 di atas, jelas bahwa apreasi terhadap film lokal memajukan berbagai industri bangsa sendiri. Kamu tidak pernah ragu-ragu merogoh dompet untuk sebuah film Hollywood yang belum tentu mutunya bagus. Coba mulai sekarang lakukan juga buat film lokal supaya semakin banyak orang-orang kreatif di balik film yang dapat terus semangat berkarya.

Jangan kebanyakan komplain, jangan merekam, yuk ke bioskop. Dukung terus kemajuan film Indonesia.

KOMENTAR
Log In untuk menambahkan komentar
Belum ada komentar
Baca Lainnya