Gus Wahid Kupas Wacana Pemindahan Ibukota Israel

Seputar Kampus
10 April 2018

Sejak pertengahan abad 20, konflik Palestina - Israel menjadi topik hangat dan masih jauh dari kata damai. Isu ini juga kerap diperbincangkan dalam studi Hubungan Internasional khususnya di bahasan Timur Tengah. Salah satu Kelompok Studi Mahasiswa (KSM) Laboratorium Diplomasi Hubungan Internasional UPN “Veteran” Yogyakarta mengadakan seminar  “Latar Belakang Pengakuan Al-Quds Sebagai Ibukota Israel” dengan menghadirkan Abdul Wahid Maktub (Staff Khusus Kemenristekdikti dan Duta Besar Qatar 2003-2007), Ali Bin Zed (Compassionate Change International), dan Dra. Harmayati (Dosen HI UPNVY).

Yerusalem atau Al Quds dalam bahasa Arab, merupakan kota suci 3 agama Samawi yaitu Islam, Kristen, dan Yahudi. Sebagai salah satu kota besar di Israel, Yerusalem juga memegang peranan penting dan dijuluki “The Holy Land”. Wacana pemindahan ibukota Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem mendapat tantangan berbagai pihak karena dapat mengancam kesucian kota tersebut. Wacana pemindahan ini sebenarnya sudah ada sejak tahun 1992 di masa pemerintahan Presiden AS, Bill Clinton, namun tidak pernah terwujud dalam pemerintahan presiden-presiden setelahnya  demi alasan keamanan. Donald Trump sebagai presiden yang terkenal dengan berbagai kontroversi dan keberaniannya, kembali menyampaikan janji tersebut dalam masa kampanye yang lalu. Walau keputusan ini telah dikecam banyak pihak, namun beberapa negara dalam Liga Arab terkesan tidak berani mengambil langkah tegas menentang AS.

Dituturkan Ali, salah satu solusi yang bisa diusulkan adalah dengan memperkuat hubungan antar negara Arab. “Mayoritas negara-negara di Timur Tengah telah berada di bawah kontrol AS dan Israel. Negara-negara Arab harus bersatu dan menunjukkan aksi tegas,” ujar alumni HI UPN tahun 2009 ini.

Secara terpisah, Abdul Wahid atau yang akrab disapa Gus Wahid mengatakan bahwa negara harus berani mengambil langkah perubahan. “Persoalan di Timur Tengah tidak hanya masalah politik. Ada sumber energi, dimensi agama, dimensi politik, dan ekonomi. Kalau kita ingin sukses di masa depan, harus berani pakai teori perubahan dan diplomasi yang baik,” terang Staf Khusus Bidang Kerjasama Dalam dan Luar Negeri Kemenristekdikti ini. Sebagai penutup, Gus Wahid menyampaikan beberapa motivasi agar menjadi diplomator atau negosiator ulung, salah satunya adalah dengan menggunakan metode Diplomasi Metafisik, atau mengandalkan nilai-nilai Ketuhanan. (Lucia Yuriko)