Rukmowati, Kembangkan Soft Skill Lewat Kuliah di Luar Negeri

Pengembangan Diri
26 March 2018

Melanjutkan sekolah hingga ke luar negeri merupakan mimpi sebagian besar anak muda. Bahkan rupanya anjuran kuliah hingga ke luar negeri sudah ada sejak dulu, tengoklah peribahasa “Tuntutlah ilmu hingga ke negeri Cina”. Anjuran ini benar karena selain mendapatkan ilmu lebih, ada banyak pelajaran berharga yang bisa didapatkan tatkala menimba ilmu di negara lain.

Pengalaman merupakan salah satu “hadiah” yang tidak dapat ditukar dengan apapun. Pengalaman belajar dengan bahasa asing, memiliki teman dari berbagai belahan dunia, mencicipi masakan asing, naik transportasi umum, jalan-jalan ke sudut kota, atau sulitnya beradaptasi di lingkungan baru. Semua pengalaman unik itu mungkin tidak bisa didapatkan saat belajar di negeri sendiri. Selain berkesan, pengalaman tersebut juga dapat membentuk kepribadian yang baru. Kondisi ini akan menguji kemampuan beradaptasi, dan secara efektif mengasah soft skill kita.

Menurut Dr. Ir. RR. Rukmowati Brotodjojo, M. Agr., (Kepala UPT Bahasa dan Layanan Internasional UPNVY) atau yang akrab disapa Rukmo, soft skill merupakan hal utama yang dibawa pulang setelah kuliah di luar negeri. Soft skill ini akan sangat berguna di kemudian hari, terutama setelah memasuki dunia kerja. Berikut ini beberapa soft skill penting menurut Rukmo yang didapatkan dari kuliah di luar negeri :

Critical Thinking (Berpikir Kritis)

Critical Thinking adalah kemampuan berpikir jernih dan rasional tentang apa yang harus dilakukan atau apa yang ingin diyakini sebagai kebenaran. Kemampuan ini sangat dibutuhkan saat studi lanjut, terutama saat membuat riset dan tulisan. “Critical Thinking sangat terbangun disitu karena selalu ada pertanyaan why, how, dan membuat kita berpikir berbeda dari sebelumnya yang dipelajari di Indonesia,” ujar wanita yang memperoleh gelar master Agricultural Entomology di The University Of Sydney. Kemampuan ini penting untuk membantah stereotype bahwa orang Asia cenderung berpikir circular, atau kemana-mana. “Kalau orang luar mereka berpikir straight forward ke permasalahan,” tambah beliau.

 

Lifetime Learning (Pembelajaran Seumur Hidup)

Hindari pemikiran bahwa kuliah di luar negeri hanya untuk orang-orang muda. Nyatanya, mayoritas universitas menerima mahasiswa hingga umur 40-45 tahun untuk jenjang doktoral. Berbeda dengan di Indonesia, yang biasanya dibatasi hingga umur 35 tahun. “Setelah selesai studi akan mengabdikan diri di negara masing-masing. Usia tidak jadi masalah. Orang akan maju kalau mau terus belajar,” ujar peraih gelar doktoral di The University Of Queensland ini.

 

Reading (Membaca)

Kemampuan membaca akan sangat terasah saat kuliah di luar negeri. Kemampuan membaca yang dimaksud tidak hanya sekadar membaca, namun bagaimana memahami dan perubahan berpikir setelah membaca. Sumber bacaan bisa datang darimana saja dan dapat diakses dengan mudah. “Perpustakaan sangat lengkap dan bisa inter library room. Saat tidak ada buku atau jurnal yang dicari, kita bisa minta untuk dipinjamkan ke universitas mana saja di dunia. Bahkan yang beratus tahun lalu pun bisa,” cerita beliau yang menyelesaikan kuliah S2 dan S3 nya dengan beasiswa Australia Award.

Dari berbagai keuntungan di atas, Rukmo menekankan kepada mahasiswa agar mencari kesempatan kuliah ke luar negeri. “Saat kuliah di luar negeri, akan menjaring networking luas dan membuka banyak pintu untuk kesempatan-kesempatan baru,” ujarnya. Terpenting adalah ilmu yang didapatkan dapat diamalkan di tanah air, dan berguna bagi orang banyak. Bagi Rukmo sendiri, menjadi dosen adalah pilihan yang baik, walau telah menempuh kuliah di Australia. “Kesempatan berkembang di Indonesia sangat bagus, dan hati saya tetap nyaman di sini. Supaya bermanfaat lebih banyak,” tutupnya saat ditemui di UPNVY.