Memilih jurusan bisa membingungkan. Mungkin sama seriusnya dengan menjalani kuliah itu sendiri.

Pengembangan Diri
25 January 2018
Foto : Shutterstock
Foto : Shutterstock

Sebelum membahas langkah yang tepat untuk keperluan ini, mari kita perhatikan beberapa kesalahan yang lazim dilakukan banyak orang.


Mitos atau Gosip
Memilih jurusan karena “kata orang” rasanya sulit dibenarkan. Menolak jurusan tertentu karena mitos juga bukan sikap bijak. Ada anggapan umum ilmu keguruan, apapun jurusannya, hanya akan menghasilkan guru.

Ada juga mitos bahwa matematika bermasa depan suram.

Di kalangan tertentu malah beredar isu bahwa jurusan desain grafis paling asyik sebab tidak ada hitung-hitungan, menghafal atau membaca, alias santai.

Pendapat-pendapat seperti ini perlu di klarifikasi pada orang yang mengerti.


Ikutan teman
Teman sering menjadi sosok berpengaruh dalam memilih jurusan. Bayangkan, ada sekelompok pelajar SMA yang ramai - ramai memilih jurusan tertentu hanya karena ingin selalu kompak dan tidak mau berpisah. Konyol. Ada lagi siswa yang ngotot kuliah di Sydney padahal jurusan yang cocok baginya hanya ada di Melbourne. Alasannya agar ia tinggal satu kota dengan teman-teman SMAnya. Ini juga lucu. Tapi dorongan dalam diri anak muda seperti ini memang ada.


Rayuan Staf Marketing
Beberapa sekolah mengadakan Pameran Pendidikan atau Career Day dengan mengundang staf marketing universitas, lokal maupun asing. Pelajar mendapat banyak info dari mereka. Namun jangan menganggap info dari mereka pasti akurat.

Seorang mahasiswa semester 3 jurusan teknik industri terpaksa pindah jurusan karena tidak menyangka akan mendapat banyak mata kuliah eksakta. Kata staf marketing universitas itu jurusan tersebut terbuka bagi anak IPS, namun tidak menjelaskan apa saja yang akan dipelajari.

Kita tidak perlu buang energi dengan menyalahkan orang marketing yang tidak bertanggung-jawab itu. Mau apa lagi?

Salah satu pekerjaannya memang merayu siswa. Kita sendiri mesti kritis menyaring informasi.


Internet si biang keladi
Informasi apa saja ada disini. Google saja. Tapi tidak semua situs di daftar pencarian ini kredibel. Infonya belum tentu akurat. Pelajar harus bisa mem bedakan mana yang berisi pendapat pribadi dan mana yang berdasarkan riset. Perlu diingat bahwa situs atau blog pribadi kadang kala juga menyebarkan gosip. Ada pula situs atau blog yang hanya bercerita pengalaman pribadi penulisnya.


LANGKAH PENTING

1. Test Bakat dan Minat
Jika memungkinkan, ambil Test Bakat dan Minat. Cari lembaga psikologi yang profesional. Jangan asal murah. Tiap model test punya kelebihan dan kekurangan. Tanyakan sedetail apa hasil testnya bisa memberi gambaran soal pilihan jurusan.

2. Konsultasi hasil test
Lakukan konsultasi mendalam tentang hasil test tersebut dengan psikolog berpengalaman (atau dari lembaga tersebut) dan gali semua potensi diri dan minat. Seorang psikolog berwawasan luas bisa memberikan penjelasan umum tentang cabang ilmu pengetahuan yang sesuai bakat dan minat si peserta test.

3. Konsultasi soal jurusan
Cari konsultan pendidikan yang kompeten dan bersedia memberikan informasi mendetail tentang beberapa jurusan berdasarkan data, bukan pendapat pribadi semata. Ia mesti paham kurikulum suatu jurusan, perbedaan satu jurusan dengan jurusan lain yang sejenis, dan perguruan tinggi mana yang memiliki jurusan tersebut. Kadang kala satu kali pertemuan ridak cukup untuk membahas berbagai kemungkinan.

4. Analisa kurikulum
Periksa setiap jurusan yang diminati dan perhatikan daftar mata kuliahnya. Buka prospectus beberapa perguruan tinggi yang diminati. Tidak ada universitas yang daftar mata kuliahnya sama persis satu dengan lainnya sekalipun nama jurusannya sama. Pilih perguruan tinggi yang mata kuliahnya paling sesuai dengan tujuan kita.

5. Info karir dan peluang setelah lulus
Setelah menemukan jurusannya, gali informasi tentang peluang dan jenis karirnya. Ada jurusan yang memberi peluang besar untuk membuka usaha sendiri setelah lulus, namun ada juga yang memiliki prospek cerah untuk berkarir di sebuah perusahaan

Masih ada aspek-aspek lain yang perlu dipertimbangkan seperti misalnya besarnya biaya kuliah, lokasi perguruan tinggi dan lain-lain. Namun dengan menmepuh 5 langkah di atas, proses pengambilan keputusan setidaknya sudah setengah jadi.