Logo UPN Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Yogyakarta
Logo UPN UPNVY

‘Kapan Kawin?’ Benarkah Pernikahan Merupakan Pencapaian Tertinggi Seorang Perempuan?

Posted at 20 November 2017 on OPINI by Redaksi
Foto : Shutterstock

Di Indonesia, pernikahan merupakan upacara sakral yang nampaknya harus dirayakan semeriah mungkin, karena pernikahan merupakan peristiwa besar dalam kehidupan sepasang manusia. Di Barat pun, pernikahan tetap dianggap sakral. Tapi nampaknya lebih banyak pasangan pengantin di sana yang memilih pernikahan sederhana dibanding di Indonesia, yang secara budaya memang terbiasa merayakan pernikahan adat nan megah. Apa kira-kira penyebabnya?

Untuk memahaminya, coba bayangkan skenario ini.

Ketika seseorang akan menikah, khususnya seorang gadis (katakan saja namanya Mawar), orang tua Mawar akan melakukan persiapan dari jauh-jauh hari untuk menyelenggarakan pesta pernikahan semeriah kantong mereka mengizinkan; memilih pakaian pengantin, katering, tempat perayaan, dekorasi, suvenir, dan masih banyak lagi. Beda ketika Mawar wisuda, perayaannya hanya sebatas makan-makan sederhana di rumah.

Apakah kalian familiar dengan gambaran di atas? Mungkin iya, karena nampaknya sampai saat ini orang Indonesia, khususnya perempuan, terlepas dari prestasi akademis, karir atau prestasi lainnya, rasanya masih belum meraih pencapaian tertinggi dalam kehidupan terpenting jika mereka belum menikah.

Ketika pernikahan masih dipandang sebagai pencapaian tertinggi, orang yang belum menikah, terlepas apakah mereka sukses menemukan sesuatu yang baru, menerbitkan banyak makalah internasional, membangun perusahaan yang mempekerjakan ribuan orang, masih dianggap tidak berhasil, karena dia masih belum menikah.

Menurut Jennifer Sidharta dalam tulisannya, membandingkan pandangan "perkawinan ini adalah segalanya" terhadap perspektif orang-orang di negara-negara maju bahwa karir dan mengejar impian seseorang juga penting, mungkin tidak mengherankan jika masalah terbesar di Indonesia masih berupa ukuran populasi.

Menurut Jennifer, hal ini dapat menghambat kemajuan peradaban dalam banyak hal, karena orang, terutama wanita, dipaksa untuk menikah sejak usia muda. Paling tidak, banyak orang Indonesia terlibat dalam perkawinan di zaman di mana usia akhir belasan dan awal dua puluhan masih dianggap terlalu muda untuk menikah.

Menurut sebuah laporan oleh Girls Not Brides, “Diperkirakan satu dari setiap lima anak perempuan di Indonesia menikah sebelum usia 18 tahun. Karena ukuran populasinya, Indonesia termasuk di antara sepuluh negara dengan jumlah pengantin anak tertinggi.”

Benarkah wanita tak akan sempurna sebelum menikah. (Shutterstock-Artem Beliaikin)

(Benarkah wanita tak akan sempurna sebelum menikah. (Shutterstock-Artem Beliaikin))

Kapan Kawin?

Di Indonesia, begitu seorang wanita mencapai usia 20-an, biasanya juga dia ditanya tentang apakah sudah punya suami, dan kapan akan menjadi pengantin. Biasanya pertanyaan “kapan kawin?” Muncul dari teman dan keluarganya, biasanya diselingi dengan senda gurau untuk menggoda gadis tersebut.

Umumnya orang berpikir bahwa 30 tahun adalah ‘batas maksima’ di mana seorang perempuan harus sudah menikah. Banyak orang juga berpandangan bahwa begitu mereka menikah, wanita harus berhenti berkarier dan fokus merawat keluarganya. Perspektif lain mendorong perempuan untuk mencoba pekerjaan rumahan atau memulai industri rumahan, meskipun sudut pandang yang lebih sinis akan menganggapnya sebagai cara lain untuk membatasi perempuan di rumah.

Pernikahan adalah bagian yang menyenangkan dari hidup, tapi menetapkannya sebagai tujuan akhir mungkin bias. Jennifer menyarankan para gadis perlu mengevaluasi kembali nilai-nilai pribadi mereka, dan memutuskan apa yang benar-benar mereka anggap paling penting. Jika memang memilih untuk menikah dan menjadi ibu rumah tangga, perempuan seharusnya menjadikan hal itu pilihan pribadinya, dan bukan karena tekanan lingkungannya, dan dia harus bangga dengan pilihannya tersebut. Namun jika seorang perempuan memilih untuk berkarier lebih dulu, sebaiknya kita juga tidak menghakiminya (atau lebih parah, menganggapnya ‘nggak laku’).

Konteks Agama

Di negara mayoritas Muslim seperti Indonesia, gadis-gadis yang beragama Islam dididik untuk menjadi istri shaleha agar bisa dimuliakan oleh agama dan mendapat tempat tertinggi du surga. Mungkin hal ini lah yang menyebabkan pernikahan di Indonesia begitu sakral, dan para wanita dianggap sempurna jika sudah menikah dan menjadi istri shaleha yang berbakti kepada suami; mengurus rumah tangga dan anak-anak. Tentu saja, istri semacam itu adalah wanita yang hebat.

Tapi nampaknya ada stigma yang kerap menyerang perempuan yang memilih untuk berkarier dan tidak menikah, atau menikah namun tetap mempertahankan karier. Padahal, walau perempuan tersebut tetap berkarier, bisa jadi dia masih bisa menjalankan agamanya dengan baik, sambil memenuhi kewajiban-kewajibannya kepada keluarga (juga suami dan anak-anaknya jika ada). Bagaimanapun dalam Islam, menikah adalah sunnah Rasul, namun tetap perkara sunnah, tergantung kondisi masing-masing individu.

Intinya, mungkin pernikahan tidak dimaksudkan untuk semua orang. Bagaimana pun, jodoh tetap di tangan Tuhan. Beberapa orang mungkin memilih untuk tidak menikah, mengabdikan diri pada tujuan mereka, atau mereka tidak pernah bertemu dengan pasangan yang baik untuk mereka. Kita seharusnya tidak mendevaluasi kualitas mereka yang lain, hanya karena mereka tidak atau terlambat menikah.

Jadi, mungkin kita sebaiknya berhenti menanyakan “kapan kawin?” kepada teman dan kerabat yang belum menikah.


Sumber : Global Indonesian Voices

KOMENTAR
Log In untuk menambahkan komentar
Belum ada komentar
Baca Lainnya